JAKARTA – Ketegangan di Selat Taiwan kembali memanas menyusul pernyataan tegas dari Presiden Taiwan Lai Ching-te. Dalam sebuah tulisan opini yang dirilis di The Washington Post, Presiden Lai mengecam keras tekanan politik dan ancaman militer berkelanjutan dari Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Sebagai respons langsung, Lai mengumumkan rencana ambisius: Taiwan Tambah Anggaran Pertahanan sebesar US$40 Miliar (sekitar Rp663 triliun) sebagai komitmen tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan cara hidup demokratis mereka.
Penambahan anggaran yang signifikan ini, yang dijadwalkan untuk periode hingga 2033, menandai lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam upaya modernisasi militer Taipei. Langkah ini didorong oleh prinsip “perdamaian melalui kekuatan” (peace through strength). Presiden Lai dengan jelas menyatakan bahwa paket penting ini akan mendanai akuisisi senjata baru yang substansial, sebagian besar dari Amerika Serikat (AS), dan secara radikal akan meningkatkan kemampuan pertahanan asimetris Taiwan, menambah biaya dan ketidakpastian yang lebih besar ke dalam perhitungan Beijing terkait penggunaan kekuatan.
💥 Respon Terhadap Agresi dan Tekanan Beijing
Keputusan Taiwan Tambah Anggaran Pertahanan ini adalah hasil langsung dari peningkatan aktivitas militer Tiongkok di sekitar pulau tersebut dalam lima tahun terakhir.
1. Peningkatan Anggaran yang Melampaui Batas
Sejak menjabat, Presiden Lai telah menjadikan modernisasi militer sebagai prioritas utama.
-
Target PDB Pertahanan: Untuk tahun anggaran 2026, Taiwan mengusulkan belanja pertahanan mencapai T$949,5 Miliar (sekitar US$30,25 Miliar). Angka ini melampaui batas psikologis 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pertama kalinya sejak tahun 2009, mencapai 3,32% PDB. Ini merupakan janji yang ditepati Lai yang sebelumnya menargetkan belanja pertahanan melebihi 3% PDB.
-
Strategi Jangka Panjang: Anggaran tambahan US$40 Miliar yang diumumkan ini akan dialokasikan secara khusus selama periode 2026-2033 untuk memastikan peningkatan kapasitas pertahanan yang berkelanjutan dan terencana.
2. Kritik Terbuka Terhadap Tiongkok
Dalam tulisannya, Lai Ching-te mengkritik Beijing karena menggunakan tekanan militer dan ekonomi sebagai alat untuk mendikte masa depan Taiwan.
-
Penentuan Nasib Sendiri: Lai menegaskan kembali posisi Taipei bahwa masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh 23 juta penduduknya, dan menolak keras klaim kedaulatan Tiongkok. Meskipun Taiwan tetap membuka peluang untuk dialog lintas selat, ia menekankan bahwa kompromi terhadap demokrasi dan kebebasan adalah hal yang mustahil.
🚀 Memperkuat Strategi “Benteng Taiwan” (Asimetris)
Fokus utama dari penambahan anggaran US$40 Miliar ini bukanlah pada pembangunan kapal induk atau jet tempur konvensional, melainkan pada pertahanan asimetris.
1. Akuisisi Senjata Kunci dari AS
Sebagian besar dana tambahan ini akan digunakan untuk membeli sistem senjata yang dapat memaksimalkan pertahanan melawan invasi yang lebih besar.
-
Fokus Senjata Asimetris: Anggaran ini diprioritaskan untuk membeli senjata yang memiliki efek penghancuran tinggi (high lethality) dan mudah disembunyikan (highly mobile). Ini termasuk sistem rudal jelajah jarak jauh, ranjau laut untuk mencegah pendaratan amfibi, dan drone canggih. Tujuannya adalah untuk membuat serangan Tiongkok menjadi sangat mahal dan tidak pasti.
-
Meningkatkan Deterrence: Dengan memperkuat kemampuan asimetris, Taiwan Tambah Anggaran Pertahanan bertujuan untuk meningkatkan daya tangkal (deterrence). Strategi ini memastikan bahwa risiko dan biaya yang harus ditanggung Beijing jika memilih invasi militer jauh lebih besar daripada keuntungan politik yang mungkin didapat.
2. Reformasi Pertahanan Internal
Anggaran ini juga akan dialokasikan untuk memperkuat pertahanan dari dalam.
-
Memperpanjang Masa Cadangan: Dana khusus akan digunakan untuk memperpanjang cadangan masa perang Taiwan dari 30 hari menjadi hingga 120 hari, meningkatkan ketahanan dalam kasus blokade atau karantina militer.
-
Peningkatan Pelatihan: Program pelatihan bagi wajib militer dan pasukan cadangan akan ditingkatkan, bersama dengan investasi pada sistem komunikasi militer yang lebih kuat dan cyber defense.
🌐 Dampak Geopolitik dan Reaksi AS
Langkah agresif Taiwan ini tidak hanya berdampak di Selat Taiwan tetapi juga menggema di Washington.
1. Dukungan AS dan Prinsip “Kekuatan”
Presiden Lai secara eksplisit mengutip prinsip “perdamaian melalui kekuatan” yang didukung oleh mantan Presiden AS Donald Trump dan Ronald Reagan.
-
Meningkatkan Kerja Sama: Pernyataan ini berfungsi ganda: sebagai sinyal tegas kepada Tiongkok dan sebagai jaminan bagi AS bahwa Taiwan serius dalam “pembagian beban” (burden-sharing). AS secara hukum wajib menyediakan sarana bagi Taiwan untuk mempertahankan diri, dan peningkatan belanja ini memperkuat argumen untuk dukungan AS yang berkelanjutan.
2. Respon Beijing
Diperkirakan Taiwan Tambah Anggaran Pertahanan secara signifikan akan memicu respon kemarahan dari Beijing. Tiongkok kemungkinan akan mengintensifkan aktivitas militernya di dekat pulau itu, termasuk latihan perang, sebagai balasan atas apa yang mereka anggap sebagai langkah provokatif menuju “kemerdekaan de facto.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok telah berulang kali memperingatkan bahwa upaya Taiwan untuk menolak reunifikasi melalui peningkatan kekuatan militer hanya akan mendorong pulau itu ke dalam bahaya konflik.
Keputusan Presiden Lai untuk mengalokasikan US$40 Miliar dalam anggaran pertahanan tambahan adalah pernyataan politik yang kuat. Ini menegaskan tekad Taiwan untuk tidak tunduk pada tekanan Tiongkok dan bersedia membayar harga yang mahal untuk kedaulatannya.
Baca juga:
- Sengketa China Jepang Sulit Selesai dalam Waktu Dekat
- Apakah Pasar Hadapi Everything Bubble? Perpecahan Pandangan Investor Global
- Rencana Ukraina Perlu Perubahan, Trump Isyaratkan Revisi Besar
Informasi ini dipersembahkan oleh empire88
