JAKARTA – Perekonomian Tiongkok kembali menunjukkan data yang kontradiktif, menempatkan para pembuat kebijakan di Beijing dalam dilema. Data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan bahwa inflasi konsumen China tertinggi dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir, didorong oleh lonjakan harga komoditas pangan utama. Fenomena ini terjadi justru ketika indeks harga produsen (Producer Price Index atau PPI) Tiongkok terus mengalami deflasi (penurunan harga) yang lebih dalam dari perkiraan.
Pada Oktober 2025, Indeks Harga Konsumen (IHK) Tiongkok dilaporkan naik 0,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), membalikkan tren penurunan dua bulan sebelumnya dan menjadi laju tercepat sejak Januari 2025 (atau September 2022, tergantung periode perbandingan). Meskipun secara umum kenaikan CPI ini masih dianggap moderat, kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan harga di tingkat ritel. Di sisi lain, Indeks Harga Produsen (PPI) mencatat penurunan 2,1% yoy, menandai deflasi selama lebih dari dua tahun. Perbedaan tajam antara inflasi yang lebih tinggi di toko-toko (CPI) dan harga yang lebih rendah di pabrik-pabrik (PPI) ini menciptakan sakit kepala bagi pemerintah yang berusaha menstimulasi permintaan domestik dan mencegah deflasi yang meluas.
🥩 Pendorong Utama Inflasi Konsumen China Tertinggi: Harga Pangan
Meskipun Tiongkok telah menghindari inflasi konsumen yang tinggi seperti yang dialami negara-negara Barat dalam beberapa tahun terakhir, harga komoditas pangan domestik seringkali menjadi pendorong utama fluktuasi CPI.
1. Peran Harga Daging Babi dan Cuaca
-
Daging Babi: Kenaikan harga daging babi—makanan pokok dan indikator inflasi penting di Tiongkok—telah menjadi faktor penentu. Lonjakan harga ini dipengaruhi oleh siklus pasokan babi dan keengganan beberapa peternak untuk menjual dengan harapan harga akan terus naik. Pada periode tertentu, kenaikan harga daging babi saja dapat menyumbang persentase signifikan terhadap kenaikan CPI keseluruhan.
-
Faktor Musiman dan Cuaca: Selain daging babi, faktor musiman dan cuaca ekstrem, seperti suhu tinggi, kekeringan, atau banjir bandang di musim panas dan gugur, sering mengganggu pasokan hasil pertanian, mendorong kenaikan tajam pada harga buah dan sayuran segar.
2. Kenaikan Inflasi Inti (Core Inflation)
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kenaikan core inflation (inflasi inti), yang tidak termasuk harga pangan dan energi yang bergejolak. Pada Oktober 2025, core inflation Tiongkok naik menjadi 1,2% yoy, tertinggi dalam 20 bulan.
-
Sinyal Pemulihan Permintaan Jasa: Kenaikan ini mengindikasikan adanya pemulihan bertahap dalam permintaan domestik, terutama di sektor jasa non-pangan dan non-energi, seperti transportasi, perawatan kesehatan, dan pendidikan, yang didukung oleh program tukar tambah konsumen (trade-in) yang didukung Beijing dan peningkatan belanja liburan (Golden Week).
🏭 Deflasi Produsen yang Persisten: Tekanan dari Sisi Pasokan
Meskipun konsumen membayar lebih banyak untuk beberapa barang, produsen Tiongkok justru mengalami penurunan harga barang di gerbang pabrik (PPI).
1. Kelebihan Kapasitas dan Perang Harga
-
Sektor Industri: Deflasi PPI mencerminkan kelemahan struktural yang mendalam di sektor industri Tiongkok. Kelebihan kapasitas produksi, terutama di sektor baja, kimia, dan baterai/EV (yang menyebabkan “perang harga” yang ekstrem), memaksa produsen memangkas harga jual mereka untuk memindahkan stok.
-
Permintaan Global Lemah: Lemahnya permintaan ekspor global dan perlambatan berkelanjutan di sektor properti domestik, yang merupakan pengguna utama bahan mentah, memperburuk deflasi PPI. Hal ini menekan margin keuntungan perusahaan hilir, menghambat investasi, dan berpotensi menyebabkan PHK.
2. Implikasi Divergence CPI dan PPI
Perbedaan antara inflasi konsumen China tertinggi dan deflasi produsen yang persisten menciptakan dampak yang sulit dikelola:
-
Profitabilitas Tertekan: Produsen tidak dapat meneruskan kenaikan biaya bahan baku (jika harga komoditas global naik) atau biaya operasional mereka ke konsumen, sehingga margin keuntungan mereka terjepit.
-
Hambatan Stimulus: Kenaikan CPI, meskipun kecil, memberikan kekhawatiran bagi Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China/PBoC). PBoC berhati-hati dalam menerapkan stimulus moneter besar-besaran, seperti pemotongan suku bunga, karena risiko memicu tekanan inflasi lebih lanjut, terutama jika harga pangan terus melonjak.
⚖️ Strategi Beijing: Antara Stimulus dan Pengurangan Kapasitas
Pemerintah Tiongkok kini harus berjalan di atas tali. Di satu sisi, mereka perlu mengatasi kelemahan permintaan domestik dan risiko deflasi, tetapi di sisi lain, mereka harus mengelola kenaikan harga yang sensitif terhadap masyarakat (seperti harga pangan).
1. Prioritas Pengurangan Kapasitas
Pemerintah Tiongkok, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, telah menekankan perlunya mengatasi kelebihan kapasitas dan persaingan harga yang tidak teratur di antara perusahaan. Upaya ini bertujuan untuk menyeimbangkan penawaran (supply) dengan permintaan (demand) di banyak sektor dan secara bertahap meredakan tekanan deflasi di tingkat pabrik.
2. Fokus pada Dukungan Konsumsi
Alih-alih stimulus moneter yang besar, Beijing lebih memilih langkah-langkah fiskal dan dukungan langsung untuk konsumsi, seperti program tukar tambah barang konsumsi dan insentif lokal, untuk menjaga momentum positif pada core inflation dan permintaan jasa.
Meskipun inflasi konsumen China tertinggi dalam dua tahun memberikan sedikit tanda positif bahwa permintaan domestik mulai stabil, deflasi PPI yang berkelanjutan menunjukkan bahwa pemulihan Tiongkok masih rapuh. Keseimbangan antara mengelola harga pangan yang volatile dan menstimulasi permintaan luas di tengah gejolak industri akan menjadi ujian terbesar bagi tim ekonomi Tiongkok menjelang tahun 2026.
Baca juga:
- Trump Izinkan Nvidia Jual H200 ke China, Minta Potongan 25%
- Ekspor China Ke AS Turun 29% di Bulan November
- Diplomat Senior AS Sebut Kebijakan UE Buruk Bagi Kemitraan
Informasi ini dipersembahkan oleh paman empire
